Sabtu, 20 Oktober 2018

Cermin

source: https://id.pinterest.com/khalisau/tumblr/




ini cerminan siapa?
menggambarkan perempuan berpakaian lengkap tapi bermuka sembab
tidak ada yang tersisa selain senyum seadanya dan pikiran yang kemana-mana
ada yang salah dengan cermin usang ini, atau ada yang bungkam dari perempuan satu ini

ini cerminan siapa?
tidak ada cerita dibaliknya,
dia hanya berdiam seperti terjebak di cermin usang
tidak mampu keluar atau bahkan memecahkan sepi ruang

sebenarnya, ini cerminan siapa?
tidak lain tidak bukan, selalu tentang perempuan satu ini
mengais kenangan, demi kesenangan
sudah tau akan sedih, tapi ingin lebih

Sebetulnya, ini cerminan siapa?
siapa perempuan satu ini?

Senin, 04 Juni 2018

Pernikahan

siapa yang mengira pernikahan bisa semulus jalan tol baru dibuka kemarin. begitu hening, tidak ada banyak mobil saling balap satu sama lain. kita bisa berjalan cepat kedepan tanpa ada macet sekalipun. kenyataannya, bisa dibilang pernikahan lebih seperti perjalananmu naik pesawat terbang, ada masa kritis didalamnya. kau bisa saja terbang mulus atau bisa jadi tiba-tiba meluncur jatuh. pernikahan hampir mirip dengan pesawat terbang. pesawat terbang adalah salah satu bentuk transportasi yang hampir 90% sangat aman, namun jika terjadi kesalahan atau kegagalan sistem pesawat maka pesawat adalah bentuk transportasi yang menelan korban paling banyak diantara transportasi lainnya.


jangan ditanya tentang pernikahan.

globalmedicalco.com


hampir semua orang berbondong-bondong memberitahukan pernikahan impian mereka karena mereka merasa pernikahan adalah salah satu bahtera paling aman bak bahtera nabi nuh. padahal pernikahan pun punya turbulensi-nya masing-masing. jika terjadi kegagalan dalam pernikahan dan mereka harus terjun jatuh, akan ada banyak korban pula dalam pernikahan. 

korban pertama jelas, dua orang yang dulu saling menyayangi menjadi orang yang tidak saling mengenali, saling mencaci, bahkan bisa jadi tidak lagi saling mencari. seakan mereka lupa dulunya mereka pernah mencintai. merengek minta disatukan pada Tuhan. 


korban lainnya adalah dua keluarga yang dulu saling meminta saling memuji satu sama lain dan saling merayu dengan bingkisan beraneka rupa. sekarang bahkan tak sudi saling toleh atau sekedar saling bicara karena rasa sakit yang dirasakan oleh dua orang yang menikah itu sendiri. 


korban paling menyedihkan disini adalah hubungan ayah-anak atau bahkan ibu-anak. mereka terpisahkan legalitas yang tak lagi bisa berada dalam satu rumah, atau bahkan dalam satu candaan klasik di ruang makan keluarga karena mereka bukan keluarga lagi. mereka terpisah tembok dan bisa jadi terpisah hubungan yang lebih sakral lagi. hubungan batin karena terpisahkan.


andai saja semua orang tahu bagaimana memberi pelajaran atau bahkan mendapat perlajaran dari pernikahan, mereka tak harus jatuh dan hancur berkeping dalam sebuah pernikahan. karena sejatinya, pernikahan bisa menjadi tempatmu mencari keamanan dan kedamaian pula. 


siapa yang tidak tergiur hatinya ketika melihat masih ada dua orang renta yang masih mencintai di detik-detik nafas tersengal-sengalnya. bergandengan tangan, memuji kulit keriput mereka satu sama lain. mereka masih saling jatuh cinta dalam pernikahan. tidak ada harta lainnya selain cincin pernikahan mereka yang bergelayut di jari manis mereka masing-masing. 

siapa yang tidak iri dengan pernikahan mereka dan berusaha mewujudkannya untuk pernikahan mereka sendiri. 

ketauhilah, semakin banyak tahun yang kau habiskan dalam pernikahan maka semakin besar pula masalah demi masalah, turbulensi demi turbulensi yang akan kau hadapi, tapi jadi lah suami istri yang semakin bersatu lagi untuk menghadapinya, karena jika tidak, akan selalu masalah dan turbulensi yang menang menunggu kejatuhan pernikahanmu yang akan memakan banyak korban. 



KikioOwl

Sabtu, 01 April 2017

Bagaimana Waktu Bisa Kita Hargai? Atau Sekedar Hargai Kita?

https://www.pinterest.com/pin/93801604712266148/




Bagaimana kita bisa menghargai kopi dan teh yang berdampingan,

Melucu tentang perasaan rindu yang dikalahkan pelukan.


-Rizki Lukitasari




Kamis, 30 Maret 2017

Teriakan seorang Jantan

Keras teriakan tidak menunjukkan kalau kau jantan
Berlagak yang lain hanya tanaman yang bisa kau beri injakan
Suatu hari senja akan belajar menipumu
Kalau tak lama lagi ada saatnya kau pasti rapuh





















Pria bertahan karena mempertahankan ucapannya
Menunjukkan dia pria yang bisa menjaga perempuannya
Kelak tanyakan saja apa yang kau janjikan
Dan kau buktikan bisa jadi kenyataan


Surabaya, 30 March 2017

Sabtu, 28 Mei 2016

"BENARKAN" bukan "BENARKAH?"

picture source : https://www.pinterest.com/pin/135600638756065434/


dikeluh kesahkan oleh sebuah penantian,
yang tiba-tiba datang membawa kebahagiaan.

tak urung dia ingin mundur,
ketakutan akan apa yang ada didepan seperti lahar menjulur.

salah memilihkah?
atau dikemudian hari akan ada sesal yang sering terbuncah.

kuatkan dia jadi sebuah keputusan,
dengarkan dia bercerita tentang angan

dia hanya butuh ditemani,
ketika nanti pilihannya menjadi kabur seperti uap wangi

jangan salahkan dia jika nanti dia memang salah
benarkan, atas apa yang dia nanti ceritakan sebagai sebuah kisah

Jumat, 11 Maret 2016

Gelitik Gemas Kecilku

picture source: http://babiesmagz.com/

Seakan-akan kita akan selalu membicarakan tentang untung rugi, kehilangan atau kelebihan, kebutuhan atau keinginan. Namun begitu memilikimu, aku tidak pernah paham bagaimana nominal untung rugi itu sebenarnya. Yang aku paham, aku bahagia memilikimu. Aku diuntungkan, aku dilebihkan, aku disempurnakan ketika memilikimu.

Awal semuanya begitu menyenangkan, aku diberikan kesempatan menghidupi satu jiwa kecil lagi dalam tubuhku. Jiwa lain yang mencuri hatiku untuk pertama kalinya dia berdetak. Jiwa lain dalam tubuhku yang tidak bisa kuabaikan sejak dia bergeliat mungil.
Ah, aku mencintainya sejak pertama kali dia bergerak dan berjiwa di isi perutku.

Menggelitik tidak hanya bagian kecil di ujung ulu hatiku tapi juga menggelitik bagian dari diriku yang ingin selalu menjaganya, mencintainya, dan menyanjungnya.
Menggelitik gemas dengan ujung jarinya yang mencoba merasa. Aku ingin dia rasakan juga bagaimana aku mencintainya. Berterimakasih atasnya kepada Tuhan berulangkali. Serta seberapa dalam perasaanku atasnya.





Selambu Rahim

picture surce:littlesnowflakes.tumblr.com


Kita sementara ini di pisah selambu rahim. Tak kasat mata tapi membuatku belum bisa menyentuhmu dulu.
Kita sementara ini di pisah dinding air. Belum benar-benar aku bisa menciummu dan merapatkanmu dalam pelukku.

Tapi nanti, pastikan saja kalau aku orang pertama yang mencintaimu.
Tapi nanti, pastikan saja kalau hanya aku yang bisa diandalkan.
Tapi nanti, pastikan saja kalau aku punya ribuan rasa kagum padamu mengalahkan jumlah bintang di semesta.

Kabari saja aku kalau kau siap, sayang.
Beri tanda apapun kalau kau inginkan aku.
Aku yang akan selalu ada.


Tumbuhlah sementara ini disana, di isi perutku yang gelap.
Nanti cahaya matahari akan bantu menghangatkanmu.
Segera setelah kau tahu aku lebih punya cahaya cinta hanya dengan mendoakanmu diam-diam.


Sampai bertemu saat selambu rahim ini tersingkap, memunculkan kamu yang aku puja sedari awal.
Sampai bertemu saat dinding air ini terpecah, mendatangkan kamu yang aku sering sebut malaikat kecil. Hadiah terbesar. Keajaiban Tuhan. Doa terjawabku.
Sampai bertemu. Sehatlah. Kuatlah. Sayangku. Kita berjuang bersama sampai saatnya tiba.

Aku yang nantinya kau panggil mama ini mencintaimu begitu dalamnya.


Sabtu, 13 Februari 2016

"SWEET"

Picture Source: www.lovethispic.com


Saya iri sekali melihat banyak anak kecil dengan gigi kecil mereka dengan rakus menggerogoti permen atau arum manis seharga seribu dua ribu dalam sekali membuka mulut. Mereka tidak takut kehilangan satu persatu gigi susu mereka keesokan harinya. Memakan manisan dengan kalap seakan besok akan kiamat atau besok diomeli habis-habisan oleh mama mereka. Apa bocah-bocah itu tidak pernah membaca penelitian kalau rasa manis yang kita kecap nantinya bisa berubah menjadi rasa pahit jika kita terlalu banyak mencicipnya.

Rasanya ingin sekali saya merebut manisan permen yang ada di tangan mereka satu persatu dan menyimpannya untuk saya sendiri. Kusimpan baik-baik di dalam kotak baja yang kuncinya hanya saya yang menyimpan dan tidak ada yang bisa membukanya. Mungkin saya hanya iri pada anak-anak itu, saya iri karena anak kecil itu memiliki konsep sederhana tentang 'manis' yang tidak serumit saya memikirkan konsep 'manis'. Manis milik mereka berbeda dengan manis milik saya.

Duduk di kursi halte menunggu bus yang didalamnya selalu berbau apek membuat saya  memikirkan banyak hal. Di depan halte tempat saya menunggu, ada pemandangan sebuah Sekolah Dasar yang memiliki ratusan manusia berukuran mini yang berteriak sekencang-kencangnya dan berlarian kesana kemari.

Seharusnya saya datang lebih awal di halte bus sialan ini agar tidak berbarengan dengan jam istirahat anak SD yg tepat berseberangan dengan halte. Dengan begitu saya tidak merasa iri dengan anak-anak kecil yang sebebas tupai loncat itu.

Perkiraan baru akan ada bus selanjutnya 58 menit lagi, jadi saya memutuskan untuk menyebrang dan membeli beberapa arum manis dan permen. Saya berani taruhan kalau menurut penelitian permen adalah penyebab utama kerontokan gigi pada anak-anak. Dengan harapan gigi saya sudah lebih kuat dan berakar, jadi tidak mungkin terkikis begitu saja oleh permen-permen ini.

"Arum manisnya 1, sama permen-permen ini sebungkus ya bang"

Si penjual yang saya panggil abang, mendongak khawatir karena baru kali ini dia melihat anak SD sebongsor saya, atau mungkin dia berpikir baru kali ini ada guru SD yang menjiwai pekerjaannya sampai ikut memakan apa yang muridnya makan.

Selesai membayar dengan uang recehan yang saya temukan asal-asalan di saku celana, saya memilih duduk di dekat gerbang sekolah sambil asik mengunyah arum manis yang barusan saya beli. Sampai seorang anak perempuan kecil berkepang dua dengan sisa keringkat yang menempel di atas bibirnya, mendatangi saya dan menatap lama.

"kakak suka arum manis?"

Dilihat dari seragamnya yang masih putih merah, saya yakin anak ini bersekolah di sekolah ini dan tidak berniat untuk menculik saya yang sedang sendirian.

"iya, suka sekali. Saya suka semua yang manis-manis" saya menjawab asal, toh yang bertanya anak kecil.

"Sama. Saya juga suka sekali semua yang manis. Tapi memangnya ada yang lebih manis selain permen dan arum manis, kak?"

Saya tersedak butiran permen manis yang belum selesai saya gigit karena ucapan anak kecil ini barusan. Karena merasa bersalah, anak kecil berkepang dua ini menatap dengan mata berair seraya bertanya dalam hati apakah saya baik-baik saja.

Ingin sekali saya mencurahkan semua yang sedang saya rasakan pada anak kecil ini. Tapi sepertinya, dia belum mengetahui apa yang dia akan ia hadapi ketika dewasa nanti. Masalahnya akan jauh lebih hebat dibanding menunggu giliran bermain lompat tali dengan 3 atau 4 temannya.

Saya mengeluarkan sebuah gambar dari dalam dompet. Menunjukkannya kepada anak kecil berkepang dua barusan, seperti anak kecil yang pamer tentang apa yang dimilikinya.

"dia manis" ujar si anak kecil tersebut sambil berlari kecil menjemput suara bel sekolah yang menandakan dia harus kembali masuk ke dalam kelas dan belajar tentang ilmu pasti alam semesta. Sementara saya disini, mematut diri berusaha sadar untuk belajar ilmu pasti tentang rasa, terutama rasa manis seperti yang dilakukan anak kecil tadi di bangku sekolahnya.

Saya awam tentang bagaimana penelitian mengatakan kalau rasa manis bisa berakhir pahit. Bagaimana pria ini bisa menjadi kesayangan saya setelah permen dan arum manis. Begitu manisnya.

Sekarang permen dan arum manis jadi begitu hambar disandingkan dengan pria manis yang tersenyum di foto ini. Kenapa bisa begitu tidak adilnya konsep manis saya dibandingkan konsep manis yang dimiliki anak-anak berpakaian putih-merah tersebut.

Semua anak-anak menyukai rasa manis dan bisa memiliki semua permen yang ada di dunia ini dengan sekali lahapan besar mulut mereka. Mereka tidak merasa takut sedikitpun jika gigi mereka disakiti atau gigis terkikis gula.

Tidak seperti saya, yang tidak bisa begitu saja memilikinya seperti membeli permen atau arum manis di abang-abang penjual manisan. Saya juga bukan anak kecil, wajarkah jika saya merasa takut gigis dan hati saya terkikis rasa sakit ketika harus merasakan manisnya rasa.

Andai sekarang saya jadi anak kecil, saya ingin memilikinya sekarang juga, arum manis pribadi saya yang senyumnya mengalahkan sisa permen digenggaman saya.
Andaikan saja konsep manis yang dimiliki setiap manusia tidak ada bedanya. Aku ingin memilikinya.

Sekelebatan, aku melihat bus besar kotorku melewati ujung mataku. Seperti menyeringai licik karena meninggalkanku sendirian yang telah setia menungguinya sedari tadi.

"ah, sial"