Sabtu, 24 Januari 2015

Sebatas ini Saya mencintaimu



Saya pernah memekakan telinga Tuhan karena memohon sebuah doa.
Saya pernah melukai lantai sujud karena bertahan hening dalam meminta .
Sebenarnya bukan doa yang bisa mengguncang dunia.
Bukan doa merajuk emas yang segunung-gunung.

Doa saya sederhana..

Saya ingin mencintai kamu, tidak melebihi saya mencintai Tuhan saya.
Saya mau mencintai kamu tanpa ada garis batas. Tidak seperti air yang punya garis pantai.
Tidak seperti pelangi yang punya garis ujung.
Saya mau mencintai kamu sesederhana doa yang diam-diam diucapkan.


Tapi sebatas ini saya mencintaimu..
Melebihi anak kecil yang kegirangan bertemu ribuan permen.
Melebihi sekumpulan pelangi, pita merah kado, Awan diujung gunung, bulan merah jambu di malam hari..

Saya ingin kamu rasa apa yang coba saya bicarakan dengan Tuhan setiap malamnya. Bahwa ternyata cinta saya tidak ada batasnya, sayang.

Aku Maunya Kamu



Tenggelamkan aku dalam lautan rindu
Bawa lari aku dalam sisa semu
Peluk aku dalam dekap sang pelipur
Selamatkan aku dari mimpi tentangmu

Aku maunya kamu
Aku inginnya kamu
Aku sayangnya kamu
Aku cintanya kamu

Kamu yang berhias senyum angkasa
Kamu yang bertahta kebaikan surga
Kamu yang bertindak serupa sutra
Kamu yang .. hanya kamu yang punya semua.

Sabtu, 17 Januari 2015

Puisi Pertama

Terimakasih atas pertemuan kita.
Semoga semesta membuat kamu lupa caranya berpisah dari saya.



Pertemuan yang tidak pernah saya sesali, kebetulan yang tidak pernah mau saya ingkari.
Ada kamu sebagai tokoh utama hati, dan saya yang terpikat si peri.

Kita dijanjikan kebahagiaan oleh waktu, aku cuma berharap kamu.

Aku sudah mengantarkan pesan pada angin agar selalu membawa serta wangimu yang jadi parfum favoritku. Aku Rindu.


-ini puisi pertamaku untukmu, ingatkah kamu?

Kamis, 04 Desember 2014

Pria ini manis ..



Aku jatuh cinta bukan pada orang luar biasa, terlalu biasa malah
Tapi dari jatuh cinta kita membicarakan rasa nyaman, bukan?
Pelupuk mata yang kelelahan seakan menemukan sandarannya

Orang biasa ini mengajarkan saya beradu tatap dengan semesta
Bagaimana mencintai bisa begitu ikhlasnya

Seperti matahari yang tidak menagih hutang pada bumi
Atau bunga mekar yang tidak meracuni kupu-kupu dengan bulir sari

Pria ini manis...
Pelangi yang melengkung sempurna bersama serbuk gula sekalipun kalah manis

Pria ini manis...
Tebu yang dibawa lari wanita kehausan tidak ada apa-apanya dengan pria ini

Manisnya seperti reruntuhan embun dari tangan Tuhan itu sendiri
Manisnya seperti suci lantai tempat peri kecil bersenda gurau
Manisnya seperti suara tak karuan dari dalam imaji hati

Kamis, 06 November 2014

Selasa, 04 November 2014

DARI JAUH SAJA



Sekedar ingin menanyakan kamu baik-baik saja, bukan hal yang mudah.
Ingin tau apa yang kau kerjakan. Atau sudah sampai mana isi perut mu diisi.
Atau sudah cukup matamu dapat gelapnya lampu ketika tidur.
Hanya ingin memastikan. Dari jauh.

Menggerutu saja isinya otak ini minta memikirkan kamu.
Padahal tak kalah jauh dari dinding langit antara kamu dan aku.
Jauhnya mati-matian tidak bisa di persingkat.

Menyingsing lengan baju saja tak bisa membuatku menakuti jarak yang jauh.
Aku tetap ketakutan kalau disana kamu tak dapat yang kau mau.
Ingin menjaga, tapi sendirinya tunduk pada rindu.
Aku menjaga dari jauh saja. Menjaga kamu.
Terlebih menyayangimu dari jauh. 

Kamis, 25 September 2014

Surat Penggemar Berat



Disembunyikan pita merah jambu, aku sudah begitu usang berdebu sarang laba-laba.
Tidak ada yang meniup agar hilang noda.
Buta aksara, antara mereka tidak mau atau tidak bisa membaca.
Aku tidak bisa membedakan.

Aku surat tidak terbaca
Diperuntukan seorang pria yang dikagumi diam-diam.
Aku surat tidak tersentuh
Ditulis seorang wanita yang jadi penggemar berat.

Bicara saja sesulit membuka simpul tali mati.
Aku surat yang tidak berani disampaikan.
Sekotak penuh, isinya barisan kata dalam kertas yang berdebu.

Aku surat yang disembunyikan begitu saja.
Dari pria yang disukai diam-diam.

Tidak ada yang boleh tahu.

Berteriak bagai pegulat menang undian, aku ingin menampar wajah si pria.
Dia harus tahu, dia disuka. Dia digilai sedemikian rupa.

Ternyata memang pria ini tidak mau membaca. Pantas saja aku disembunyikan.

Tidak ada yang boleh tahu.

Minggu, 14 September 2014

Ini Hati, bukan Rongsokan.


Hati saya bukan kantong tak bernama. Bisa seenaknya diisi kemunafikan.
Isinya belum tentu berlian, tapi jangan samakan tempat kau buang sampah.
Belum cukup seabad aku menjaganya baik-baik saja, jangan ditambah kamu yang merengek ingin meng-obrak-abrik-nya bagai keparat kecil mengaku dewasa.
Seenaknya meninggalkan bekas, seakan esok hari tidak lagi butuh apa yang kau campakan.

Paduka yang mulia, jangan berbuat rusuh pada tempat sakral. Apalagi yang namanya hati.
Paduka yang terhormat, hormati tanpa perlu angkuh yang jadi milik orang satu-satunya. Belum tentu dia punya tiga hati.

Dikira hati saya alas kotor kaki Anda?
Datang untuk meninggalkan noda, lalu datang lagi karena ingin tahu apa masih baik-baik saja.

Hati berteman baik dengan doa, yang kadang bisa memaki sedemikian rupa.
Didengar Tuhan, apalagi.
Bisa-bisa karma yang sopan santun menghampirimu yang tak tahu tata krama.