Rabu, 06 Agustus 2014

Virgo

Oke, *benerin kalung mantra* *pake kacamata cenayang*

Sekarang tidak mau terlalu serius gembar gembor cerita fiksi yang merepet ke kehidupan asli sebenarnya penulis, atau membuat puisi-puisi yang sebenernya tidak pernah langsung disampaikan penulis ke orangnya.

Bicara tentang zodiak, saya girang sekali kalau bertemu kolom kecil berisi berbagai macam lambang zodiak. Saya hanya senang tapi bukan penyembah berhala yang percaya kalau rejeki mengucur dari hasil tarot seseorang di lembar zodiak. Yang saya suka dari zodiak adalah bagaimana saya bisa mengetahui karakter seseorang dari zodiaknya. Tidak perlu susah menyewa mata-mata, atau membayar keluarga terdekat untuk tau bagaimana sifat atau karakteristik seseorang.

Karena saya bukan orang yang menjampi-jampi lampu ajaib agar bisa menyala, jadi saya hanya membahas satu lambang saja yang saya tau betul bagaimana karakteristiknya.

Image Source: www.zodiakgembira.tumblr.com


Virgo, berlambangkan seorang wanita cantik yang menurut saya tidak melakukan apapun, hanya berdiri, kadang duduk dengan rambutnya yang berjuntai-juntai. Berbeda dengan lambang libra misalnya, yang membawa timbangan, atau aquarius yang selalu membawa gentong air, atau gemini yang bergandengan atau bergurau dengan kembarannya. Virgo? selalu digambarkan dengan ke-anggun-annya, dan manner dia ketika berdiri atau duduk. Sampai saya menemukan kata yang tepat dari seseorang untuk virgo adalah kata "jaim" for "Jaga Image banget ya ini virgo". We born that way actually, have a problem? lapor sana ke MK (Mamah Kekeh). *Dedeh, kik! *meleset sendiri, dijawab2 sendiri*

Found some article that say:
Never believe in 3 people: Sagitarius, Aries, Pisces (They are the most selfish and mean).
Never lose 3 people: Taurus, Cancer, Capricorn (They are the most sincere and true lovers).
Never leave 3 people: Virgo, Libra, Scorpio (They can keep secrets, friendship, and they can see your tears).
Never reject 3 people: Leo, Gemini, Aquarius (They are true, loyal and honest friend).

Some are damn true! :D
Virgo have a big big heart, i guess. Positively, mereka tipe setia kawan, setia pacar juga *ehem*.
Kalau kalian baik dan setia sama si virgo ini, jantung juga dikasih. Kurang baik apa cobak? tapi untuk beberapa orang mungkin akan bilang "kita ga cocok, kamu terlalu baik". Gezz, please! yaudah sana temenan/pacaran sama sumanto. *eh, btw sumanto belum keluar penjara ya? *teralihkan

In case, kalian beneran orang yang nyuekin atau ninggalin virgo gitu aja *jeng jeng* Virgo is great escaper. Ketika Virgo merasa diacuhkan atau di sakiti, mereka akan pergi begitu saja dari kehidupan kalian. Sebenarnya bukan karena membenci orang tersebut, tapi itu cara virgo untuk menyembuhkan diri. Mereka pendendam, bukan cara yang mudah bagi mereka untuk memaafkan atau lupa rasa sakit hati mereka. Karena itu mereka butuh menyembuhkan diri dengan cara 'melarikan diri' tadi.

Virgo mostly introvert ya. Pendiam dan pendendam dalam waktu bersamaan. Good combination, huh?
Karena introvert nya itu, mereka termasuk orang yang rigid, stick with schedule and plan, home person, tapi mereka pengikut arus yang baik, mereka bisa menempatkan diri dimanapun dan dengan siapapun ketika virgo nyaman dengan orang tersebut ya.

Even dia home person ya, tapi kalau diajakin travelling or something ya dia mau-mau aja. Kan mereka pengikut arus. Apalagi kalau yang ngajakin udah nyaman banget sama virgo begitupun sebaliknya. Virgo ini temen yang paling dijagain, entah karena saking rapuhnya atau karena saking baiknya. Mereka juga bukan tipe show off yang gila pujian yang pengen namanya diteriakin orang se stadion. *jadi kayak calo tiket*
Tapi beneran, mereka bukan tipe orang yang ngomong aku loh bisa ini, aku loh jago ini, aku loh suka ini, aku loh liburan kesini bla bla bla. Virgo bakal mikir orang yang kayak gini mirip kokoh-kokoh jual arloji di pasar atom. Niat temenan atau promo produk? (._. )

Virgo itu unsur alamnya tanah, ga tau juga sih maksudnya apa. Virgo kalau sudah nyaman dengan seseorang, they'll spend all day long to talk each other about everything. i said, everything. Semua juga bakal dikomentari sama Virgo. Mulai dari yang paling detail sampai yang paling ga detail. Perfeksionis sih, terutama sama kerjaan yang ga beres dia suka geli sendiri. Pokoknya harus beres.

Intinya, "people first baru dirinya sendiri" pola pikir virgo, makanya sering banget virgo ini dibikin sakit hati saking memikirkan kesejahteraan orang dibanding dirinya sendiri.

Virgo sih ga bisa dibikin jadi kayak sagitarius atau taurus atau cancer. Begitupun saya ga bisa diubah persis harus seperti sifat si ini si itu. Semua punya otak dan isinya masing-masing. Punya hati dan isinya masing-masing.

Wooff, sepertinya tulisan ini bukan hanya membicarakan virgo, tapi saya. Yup, im under the virgo sign and proud of it.

Sampai jumpa di pembahasan tentang zodiak yang lain. *sebar wewangian sedap malam *kesannya biar mistis *kan abis bahas ramalan

bye!

Rabu, 30 Juli 2014

Happy Ied Mubarak, everyone!



Masih dalam rangka Hari Raya Idul Fitri. Ketupat jadi makanan utama, memaafkan jadi perbincangan utama dalam minggu ini.

Saya sendiri bukan anak dewa atau anak setengah Tuhan, jadi memaafkan bukan pekerjaan mudah bagi saya, tapi tidak saling menyakiti bisa sangat berarti untuk beberapa orang.

Rasanya lelah basa-basi saling memaafkan yang tidak cukup dalam sehari dua hari.
Bukan karena tidak mampu memaafkan tapi bagaimana sebenarnya dari lubuk hati saya yg paling dalam tidak terima kenapa harus ada kata maaf ketika masih saling menyakiti.
Terkadang ada rasa jengah ketika harus memberi maaf pada orang yang paling menyakiti kita.

Sebenarnya apa makna dibalik kata maaf?
Maaf bukan hanya kata, sekilas mirip udara sekali lewat, tapi ketika diterima bisa seperti jingga yang merindukan sore. Tenang. Baik ketika dimaafkan atau memaafkan.

Karena saya bukan orang suci yang hidup tanpa salah, meminta maaf sudah tidak terhitung berapa jumlahnya. Tapi justru karena saya manusia biasa rasanya tidak gampang memaafkan.

Bukan tanpa maksud Tuhan menciptakan hari suci ini, untuk saling memaafkan dan meminta maaf.
Semoga kata maaf bukan hanya kucuran kata yang keluar begitu saja karena tidak sengaja menyakiti. Tapi maaf bisa menjadi pengobat sakit hati ketika waktu tidak bisa mengurangi rasa sakit.

Once again, selamat hari raya idul fitri, saya haturkan maaf dari dalam hati atas kata dan perbuatan yang tidak sengaja diujarkan. Saya haturkan maaf atas segala sakit hati yang tidak berkenan.

Rabu, 23 Juli 2014

I know it!


One day,

when i wake up at 3am,
unable to sleep,
i will look next to me,
and you will be there
sleeping peacefully beside me
and suddenly,
the world won't seem so lonely.

(source: constantneverland via tumblr)

Garden


So plant your own gardens
and decorate your own soul,
instead of waiting
for someone to bring you flowers.

(Source: J. L. Borges Via Tumblr)

Insignificant



I don’t want to be
your entire world, no.

I would be happy
just to be your morning coffee,
your hanging car keys,
your wallet.

Something seemingly
insignificant,
but if lost throws off your entire day.


(Source: lucyquin via Tumblr)

Sabtu, 12 Juli 2014

Dunia Kami Lain!

Image Source: http://journals.worldnomads.com/akoayinhinyero/photo/38556/930209/Philippines/These-two-kids-are-from-our-barangay-and-they-are-motherless-already-Big-siste#axzz37Ekd1VDL

Matahari yang tak pernah lengah terus berusaha membuat kulitku terbakar padahal sekarang yang tersisa dari kulitku hanya peluh dan daki yang terus menghitam menutupi kulitku yang legam, rambutku yang kusut kuikat dengan karet seadanya yang kutemukan di jalanan. Hanya satu hal yang membuatku merasa mampu mengalahkan matahari dan berjalan tanpa beban adalah salju-ku. Salju yang kini tengah tertidur dengan wajah tak berdosanya di punggungku, terikat kain yang sudah berwarna kusam dan penuh kotoran hitam. 

Bocah laki-laki itu bernama Didit, adik-ku yang kini berumur 2 tahun 2 bulan sedang memeluk leherku dan wajah malaikatnya tertunduk di bahuku meneteskan air liur di lengan bajuku. Wajahnya juga tidak beda jauh dariku, hitam karena daki, rambut kusut dan berwarna kemerahan karena matahari, pipinya yang gembul penuh dengan debu yang menghitam. Aku menyayanginya lebih dari apapun di dunia ini, karena cuma dia harta yang aku punya selain rumah kardus, selimut robek, bajuku yang mirip kain pel dan sandal jepit yang aku ikat dengan tali disana-sini agar tidak rusak untuk yang kesekian kalinya. 

Aku sendiri berumur dua belas tahun, baru saja kemarin aku merayakannya bersama adikku tersayang, Didit, di bawah pohon randu besar yang letaknya dekat rumah kardus kami. Kami makan malam dengan satu buah pisang goreng yang kami temukan terjatuh di samping rombong penjual gorengan. Makanan ini cukup mewah untuk kami dibandingkan dengan makanan kami sehari-hari yang hanya kerupuk, itu pun jika kami punya uang lebih membeli kerupuk yang masih bagus biasanya jika uang kami kurang kami hanya memakan kerupuk yang sudah basi yang sudah tidak bisa digigit. Dihadapan makan malam kami yang mewah ini aku dan Didit mengucapkan do'a yang selalu kami panjatkan sebelum makan.

"Terimakasih untuk makanan mewah ini Tuhan, makanan yang Kau kirimkan sebagai hadiah ulang tahun ku yang ke dua belas. Semoga makanan kami malam ini mendapatkan berkah dan hidayah-Mu. Aminnnnnn". 

Pisang goreng yang lumayan besar itu cukup mengundang selera makan kami, bahkan Didit berulangkali berusaha meraihnya dari tanganku.

"Mbak Melly tiup lilin dulu ya Dit, biar kayak di tipi-tipi itu loh Dit, nanti mbak mau buat permohonan dulu, baru pisang gorengnya dimakan bareng-bareng yah?!"

Aku memejamkan mataku berusaha membayangkan pisang goreng tersebut adalah kue tart besar yang berwarna-warni dan ada dua belas lilin menyala di atas kue tersebut.

"fuuuhhh!"

Aku membuka mata dan melihat Didit duduk manis dihadapanku menatapku lama dan merangkak ke arahku berusaha untuk memeluk leherku dan aku mendengarnya berbisik di telingaku.

"Mmm...eeee...iii"

Mataku berkaca-kaca mendengar Didit mengucapkan kata pertamanya dan itu adalah namaku meskipun kurang huruf "L" ditengahnya, tapi ini adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan. Akhirnya yang memakan pisang goreng itu hanya Didit karena dia butuh gizi yang lebih banyak, sedangkan aku cukup meminum air putih saja sambil melihat adikku memakan dengan lahap pisang goreng yang aku temukan tadi sore. Bagiku itu sudah membuatku sangat kenyang, kenyang akan kebahagiaan.

Esoknya kami kembali berjalan menuju rumah bu Sri yang sudah dua tahun ini mau memberi kami pekerjaan meskipun dia sendiri hanya janda dengan lima orang anak dan seorang buruh cuci, tapi hatinya baik sekali mau memberi kami pekerjaan meskipun dia sendiri adalah orang yang kekurangan. Tugasku dirumahnya hanya menjaga lima orang anaknya yang masih kecil-kecil agar tidak berkeliaran di luar rumah sampai bu Sri pulang, aku hanya dibayar air minum bersih dan sebotol susu untuk Didit perhari. Satu hal kenapa aku mau bekerja di rumah bu Sri karena aku paling pantang meminta uang atau mengemis di jalanan seperti kebanyakan anak-anak seumurku yang tinggal di dekat rumahku. Aku merasa malu harus menggunakan adikku sebagai penarik iba dan rasa kasihan dari orang lain. Setidaknya dengan bekerja di rumah bu Sri, adikku bisa tidur di lantai yang dingin dan minum susu botol sebagai imbalan kami menjaga rumah bu Sri. Kami kembali ke rumah pukul satu siang menuju rumah kardus kami tercinta. 

Kami melewati sebuah toko elektronik yang menjual banyak sekali televisi yang menayangkan gambar berwarna-warni, aku berhenti sebentar di depan salah satu televisi yang dipasang menghadap keluar sehingga kami bisa melihat gambar televisi itu tanpa perlu masuk ke dalam toko elektronik tersebut. Didit terlihat tertarik dengan salah satu televisi yang menayangkan gambar anak perempuan yang sangat cantik sedang bermanja-manja dengan ayahnya yang akan berangkat ke kantor, gadis itu merengek-rengek minta mobil pada ayahnya.

"Apaaaa?!! minta mobil?? ckckckck" Aku berdecak iri sementara Didit terus berusaha menyentuh televisi tersebut.

"Kata temen mbak yang punya tipi, itu namanya sinetron Dit. Itu dunianya orang kaya, beda sama dunia kita, jadi jangan sering-sering nonton sinetron nanti kamu jadi pemimpi yang bisanya cuma berkhayal dan bermimpi tanpa usaha".

Aku melanjutkan perjalanan ke rumah sementara Didit terus merengek minta kembali ke tempat televisi tadi.

"Sudahlah Dit, dunia kita lain sama dunia yang ada di tipi itu. Jangan mimpi kamu! Ayo kita pulang ke dunia kita ya sayang".

Dan Didit menangis. 




==========================================================================

Cerpen diatas adalah cerpen saya yang pernah di muat di media "Jawa Pos" Surabaya, pada Senin, 31 Mei 2010. Sudah 4 tahun yang lalu. Time flies!

"I Love You, for God Sake!"


Terhitung sudah hampir puluhan kali saya mengatakan kepada pria ini kalau saya menyukainya, saya menyayanginya. Tapi ibarat mikro partikel debu di jalanan, pengakuan saya ini jadi seperti guyonan yang tidak sampai melukai retina matanya. Sia-sia.

Semua yang saya katakan jadi seperti ocehan anak berumur 10 bulan yang bercecer air liur tanpa ada yang paham maksudnya. Kenapa susah sekali menunjukkan kepada orang lain kalau kita mencintai mereka. Kalau saya bisa menuliskannya ribuan kali di kertas saya bisa menghabiskan banyak sekali kertas kosong tapi sayang tidak ada yang mau membacanya.

Saya mengaduk tanpa ada maksud cangkir saya yang masih berisi gula. Bahkan untuk menuangkan cairan teh yang masih anteng di dalam teko saya malas bukan main. Saya menggerutu dalam hati kenapa restoran ini tidak langsung menuangkan tehnya ke dalam gelas saja. Kenapa harus saya, seorang pembeli yang adalah raja malah harus menuangkan sendiri air teh tersebut. Apa tidak cukup isi hati saya yang berserakan di pelupuk mata karena patah hati semalam.

"ah, menyebalkan!"

Saya menggerutu seenaknya karena merasa tidak akan ada yang mendengar, tapi ternyata tanpa saya perhatikan seorang pria yang saya kenal wanginya sudah duduk anteng dihadapan saya.
Terkejut bukan main, harusnya tidak ada siapa-siapa yang tahu saya sedang disini merayakan sakit hati sendirian. Kenapa harus ada tamu.

"Bim! ngapain disini?" Wajah tidak senangku pasti kentara sekali terlihat, saya memang tidak suka ada yang merusak 'pesta' saya.

Pria ini bukan dalang dari sakit hati saya hari ini, tapi tetap saja, pria ini tidak seharusnya diundang dengan terhormat di sebuah 'pesta', meskipun hanya pesta pesakitan yang patah hati. Pria ini hanya memakai kaos oblong yang menyembunyikan badan kurusnya, celana jins, dan sepatu sneaker biasa. Dari pakaiannya sepertinya dia memang tidak sedang datang untuk merayakan pesta.

"Katanya kamu disini, kia. Makanya aku kesini"

Siapa? Siapa? Siapa yang licik membocorkan dimana saya berada? Dia harus diberi pelajaran, sampai saya ingat satu-satunya yang tahu saya sedang disini adalah saya sendiri. Tidak ada yang tahu.

"When you love someone, you just give the power to someone to influence your happiness, you're also giving the gun to kill that happiness" teman baik saya ini tiba-tiba mengucapkan sebuah kalimat yang dengan percaya diri diucapkan seakan-akan ingin menjawab isi hati saya.

"..."

"Saya beri kamu senjata saya. Kalau saya lupa cara menyayangi kamu, bunuh saya dengan senjata yang saya berikan, tapi selalu beri saya pelukan sebelum kamu membunuh saya agar saya ingat kembali cara menyayangi kamu"

Apaa-apaan ini, apa maksud pria ini?

"I love you, for God sake Kia for a long time ago. Please realize. Wake up!"

Saya tidak tahu harus berkata apa, pria ini yang sudah saya kenal dari 5 tahun lalu ini, selalu memasang muka manis ketika saya bercerita tentang proses saya jatuh cinta sampai akhirnya selalu patah hati. Pria ini yang tidak lupa memberi saya kejutan kecil yang saya kira hanya untuk menghibur saya yang sedang bermasalah. Pria ini yang setiap ulang tahun saya tidak pernah absen untuk membangunkan saya ditengah malam dan memaksa saya berdoa lalu bernyanyi riang dihadapan bintang. Saya tidak pernah lupa caranya berbahagia di samping pria ini.

Pria ini yang selalu ada.

Pria ini yang sekarang sedang menuangkan air teh untuk saya minum agar saya bisa menghilangkan kata-kata yang tersumbat ditenggorokan sedari tadi. Kata-kata yang tidak bisa saya ucapkan sedikitpun. Hanya sebait lagu dari restoran yang terdengar keras di sela-sela detak jantung saya yang tidak beraturan iramanya.



~ secangkir teh yang hangat, kau tuangkan untukku. Datang dari hatimu, datang dari cintamu, datang dari dirimu, untukkuuuu ~



Cerita fiksi ini diciptakan semata-mata hanya karena penulis sedang kecanduan sebuah lagu sederhana tapi bermakna dari 'Rieka Roeslan feat. Nino RAN' yang berjudul 'kopi dan teh'.

Sesuatu yang sederhana tapi bermakna memang kadang sering dilupakan, tapi itu yang menyelamatkan saya dari patah hati ketika harapan jadi terlalu tinggi.

Rabu, 18 Juni 2014

Senyum Bocah



Kaki kecil itu terlalu hitam dan keras untuk berjalan sendirian di panasnya aspal tanpa alas sekelas sandal jepit. Tangannya yang menggenggam recehan masih menyisakan tiga sampai empat eksemplar koran yang tidak laku terjual pagi hari tadi.

Sedangkan,
saya sedang dalam masalah besar hari ini, saya yakin ini sengketa alam yang berusaha membuat saya menjadi wanita menyebalkan dan pemarah. Bagaimana tidak, banyak pekerjaan anak buah yang tidak selesai seperti perintah saya. Seakan bos ikut berkonspirasi membuat saya semakin muak berdiam diri di dalam kantor. Sejenak ingin keluar dengan alasan makan siang.

Kuku-kuku yang menghitam itu seakan malu untuk mengetuk kaca mobil yang mulus itu hanya untuk menawarkan sisa korannya yang lecek. Tapi apa boleh buat, perutnya bergemuruh kelaparan minta di isi seadanya. Sudah dari kemarin isinya hanya air, pantas kalau sekarang perutnya berdemo riuh minta diperhatikan.

"koran, mbak"

Saya kaget bukan main, padahal hanya suara ketukan kecil di kaca mobil. Sudah hampir marah saja rasanya, saya buka kaca jendela dan ingin segera menyemburkan nafas api ke biangnya suara.
Bukan siapa-siapa memang, tapi sepersekian detik setelah saya melihatnya, saya jatuh hati, saya jadi seperti bara api yang disiram air bunga. Saya tenang seketika.

Bocah laki-laki kecil ini berusaha melebarkan senyumnya didepan setiap orang, setidaknya dengan begitu orang juga merasa ingin tersenyum, bocah ini tidak mau orang yang melihatnya merasa iba atau kasihan karena dia memasang wajah memelas. Padahal ingin sekali bocah ini menyengir lebar karena perutnya yang melilit memprotesnya karena butuh nasi yang bisa dicerna.

Saya melihat sebuah senyum yang tulus dan ikhlas. Saya pernah melihat ribuan senyum dibuat-buat didepan saya. Tapi yang ini lain, senyumnya yang sejuk bisa mengalahkan angin pantai yang sudah saya rencana-kan akhir bulan ini di hawai. Tiba-tiba saya tidak butuh hawai, saya bahkan lupa dimana tiket pesawat yang sudah saya beli dari 5 bulan lalu. Tapi senyum bocah ini bisa menggantinya.

Buru-buru saya cari uang kertas yang tersisa di dalam tas. Saya hanya menemukan uang 20.000-an. Sambil melihat waktu berjalan di lampu merah yang masih di angka 80, saya membalas senyum bocah kurus ini dan memberikan uang yang saya temukan di tas.

"tidak pakai sandal?" saya bertanya.

Si bocah melihat kakinya malu-malu, tetap dengan senyumnya yang lebar. Karena diingatkan seperti ini, kaki si bocah terlihat berjingkat karena baru sadar kakinya kepanasan sedari tadi.

"Korannya" bocah ini mencoba mengalihkan perhatian saya dari kakinya.

"Kenapa tidak pakai sandal?" saya mengulangi pertanyaan.

"Kaki saya kuat kok, mbak" si bocah itu lagi-lagi tersenyum sambil melompat-lompat karena baru sadar kalau aspal hari ini sedang dihajar mati-matian oleh matahari.

"kembaliannya"

"ambil saja"

Si bocah memberi saya senyuman terlebar yang bisa dia ciptakan. Lalu mencelat pergi menuju pohon-pohon yang bayangannya mampu mendinginkan telapak kakinya yang terlanjur kepanasan.



Saya dikagetkan lagi oleh bunyi klakson dari pengemudi yang marah dibelakang mobil saya karena lampu lalu lintas sudah hijau dari tadi.

Saya diajarkan banyak hal dari bocah kecil tadi. Bukan waktu yang lama untuk belajar pada umumnya, hanya 80 detik dari bocah yang kurus kering, dahi dan leher yang menghitam karena daki, jari-jari mungil yang kuku-kukunya sedikit kotor, dan kaki yang kuat kesana kemari tanpa alas.

Bagaimana mungkin bocah ini memuji kakinya kuat sementara dia berjingkat-jingkat kegelian setelah diingatkan.
Memang, bersyukur bukan hal yang sulit tapi tidak banyak yang bisa melakukannya seketika itu dan setiap waktu. Bersyukur atas apa yang kita miliki dan tetap bersyukur atas apa yang tidak kita miliki.

Saya diingatkan bocah ini untuk tersenyum lebar pada siapapun, pada situasi Tuhan, dan terutama pada diri sendiri.
Bocah ini membawa berlembar-lembar koran sedangkan saya membawa berlembar-lembar berkas penting kontrak dengan perusahaan besar.
Bocah ini tidak memakai alas kaki sedangkan saya memakai berbagai jenis sepatu bernama yang setiap harinya bisa berganti sesuai warna pakaian.
Bocah ini bisa bersyukur dan memuji kakinya kuat padahal untuk membeli air bersih saja mungkin kesulitan apalagi sandal.

Saya kembali ke kantor, dan tersenyum pada semua orang.
Saya masuk ke dalam ruangan, dan tersenyum pada diri sendiri.
"hati saya kuat, otak saya kuat, Lila kuat kok"
Saya kembali bekerja sambil berjanji untuk kembali ke bocah tadi membawa sepasang sandal dan makanan. Sudah tidak sabar rasanya belajar lagi dari bocah 'si kaki kuat'.